LifestyleSosial

Meradjoet Sendja, Persembahan Monumental Bukti Cinta Negeri

Meradjoet Sendja dan Dialog Kebangsaan, Persembahan Cinta untuk Republik

Merajut kembali semangat 81 Indonesia merdeka, Dompet Dhuafa dan PARFI 56 menggelar Dialog Kebangsaan sekaligus konferensi pers pertunjukkan orkestrasi kebangsaan yang bertajuk “Meradjoet Sendja”. Pertunjukkan monumental untuk negeri ini, disutradarai oleh Olivia Zalianty. Setelah vakum selama lebih dari 4 tahun dari dunia panggung, Olivia hadir kembali sebagai seorang sutradara dan produser.

Acara Dialog Kebangsaan dan konferensi pers Meradjoet Sendja sekaligus peluncuran program Social Fund yang merupakan nota kesepakatan antara Dompet Dhuafa dan PARFI 56. Social Fund merupakan kegiatan sosial yang dananya diperuntukan untuk membantu para pekerja seni dan film serta dhuafa yang membutuhkan bantuan.

Program sosial kolaborasi antara Dompet Dhuafa dan PARFI 56 ini sudah melakukan aksi nyatanya dengan memberikan bantuan pada Fahmi Bo dan seniman lainnya yang saat ini kondisinya sedang sakit. Bantuan tersebut berupa pemeriksaan gratis yang dilakukan oleh dokter serta pinjaman mobil ambulance yang membawa kontrol ke rumah sakit.

Dialog Kebangsaan sekaligus konferensi pers Meradjoet Sendja
Dialog Kebangsaan dan Konferensi Pers Meradjoet Sendja (dokumentasi pribadi)

Dialog Kebangsaan, Pancasila Sebagai Nilai-nilai Dasar Bernegara dan Konferensi Pers Meradjoet Sendja

Dialog Kebangsaan menghadirkan narasumber : Profesor Yudi Latif sebagai pembina Dompet Dhuafa, Olivia Zalianty, sutradara dan produser Merajoet Sendja serta KGPH Ndaru Kusomo, seniman dan musisi yang karyanya hadir memperkaya pertunjukkan monumental kebangsaan Meradjoet Senja.

Merdeka bukan hanya hidup bebas dari penjajah semata tapi sebuah pertanyaan besar yaitu mau dibawa kemana kemerdekaan bangsa ini? Pertanyaan sekaligus kegelisahan yang melatarbelakangi Dialog Kebangsaan digelar. Prof. Yudi menegaskan bahwa yang terpenting justru bukan “merdekanya” tapi setelah itu. Mau dibawa kemana negeri ini? Arah negeri ini mau kemana?

Sebagai generasi penerus, didah seharusnya kita merajut kembali benang-benang perjuangan yang terpisah. Memaknai kembali semangat perjuangan para pendahulu bangsa sebagai jembatan emas dalam meraih cita-cita bangsa. Prof. Yudi menjelaskan bahwa ada nilai-nilai yang menyatukan Indonesia yaitu Pancasila. Pancasila merupakan nilai-nilai dasar bernegara dan bukti cinta tanah air.

Pancasila merupakan budaya tulen nusantara dengan gotong royong sebagai nafasnya. Sementara itu Olivia mengungkapkan bahwa pertunjukkan Meradjoet Sendja merupakan ungkapan kegelisahan hatinya terhadap negeri ini. Dulu, kita bisa memperoleh banyak role model dalam mencintai negeri ini. Seperti Bung Karno dengan kharismatik perjuangannya, Bung Hatta sebagai eksekutor ide-ide kenegaraan yang digelontorkan Presiden Soekarno.

Kini, penerus bangsa kehilangan role model tersebut. Kegelisahan inilah yang menjadi salah satu alasan pertunjukkan Meradjoet Sendja dihelat. Meradjoet Sendja terinspirasi dari tulisan Prof. Yudi Latif seputar perjuangan Indonesia serta pemikiran-pemikiran pendahulu bangsa ini. Orkestrasi kebangsaan ini mengupas pemikiran para pendahulu bangsa yang belum pernah dilontarkan pada publik. Melalui persembahan kebangsaan ini, penonton diajak untuk melihat sejarah perjuangan bangsa dari kacamata yang tidak biasa.

KGPH Ndaru Kusumo mengajak penerus bangsa untuk merasakan nilai-nilai perjuangan bangsa melalui Pancasila. Pancasila perlu diwariskan sebagai nilai luhur yang menjadi dasar bernegara. Nilai-nilai luhur bernegara ini, wajib diwariskan pada generasi penerus bangsa. Nilai-nilai kebangsaan harus dirajut kembali dan kemudian diteruskan oleh penerus bangsa.

Konferensi Pers Meradjoet Sendja

Siapa yang berpikir jika senja adalah akhir? Sejatinya, senja bukanlah sebuah akhir melainkan peralihan. Peralihan menuju awal baru karena setelah senja, fajar baru menyingsing. Semangat inilah yang dijadikan napas dalam persembahan monumental Meradjoet Sendja. Sebuah pertunjukan orkestrasi kebangsaan yang menjadi puncak program Bakti Seniman Nusantara yang menjadi bagian dari program Social Funds Dompet Dhuafa dan PARFI 56.

Meradjoet Sendja rencananya akan digelar pada tanggal 26 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Melalui persembahan kebangsaan ini, diharapkan benang-benang perjuangan para pendiri bangsa serta nilai-nilai kebangsaan yang terpisah dapat kembali dirajut untuk diwariskan kepada generasi penerus.

Olivia Zalianty, produser sekaligus sutradara Meradjoet Sendja, mengatakan bahwa persembahan kebangsaan ini bukan hanya sekadar pertunjukan seni. Pertunjukan seni ini merupakan panggilan hati untuk menyambungkan kembali pemikiran, perjuangan, dan nilai kebangsaan yang mungkin mulai terpisah oleh waktu.

“Saya ingin penonton merasakan bahwa nilai-nilai para pendiri bangsa dalam mewujudkan cita-cita negeri ini masih hidup dan perlu dibawa ke masa depan. Pertunjukan ini adalah persembahan cinta saya dan suami , KGPH Ndaru Kusumo, untuk Republik Indonesia,” ujar Olivia Zalianty

Makna di Balik Nama Meradjoet Sendja

Pemilihan nama Meradjoet Sendja menggunakan ejaan kuno bukan tanpa alasan. Olivia menjelaskan bahwa penggunaan ejaan tersebut secara artistik menghadirkan nuansa visual dan emosional yang mengingatkan pada era awal kemerdekaan Indonesia. Judul persembahan monumental tersebut memiliki makna yang cukup dalam.

Merajut senja menggambarkan harapan yang kembali dihadirkan karena senja hanyalah sebuah peralihan. Setelah senja akan dilanjutkan fajar yang membawa banyak harapan baik. Begitu pula yang ingin disampaikan dalam pertunjukan teater dan musikal ini. Meradjoet Sendja adalah merajut kembali nilai-nilai perjuangan yang terpisah akibat perbedaan jaman dan kemajuan teknologi.

Meradjoet Sendja sebagai Upaya Menyambungkan Kembali

Kata Meradjoet dimaknai sebagai upaya menyambungkan kembali benang-benang pemikiran yang sebelumnya terpisah. Sementara itu, Sendja memiliki dua lapis makna. Pertama, menggambarkan fase penghujung kehidupan para tokoh pejuang kemerdekaan termasuk seniman dan pekerja seni. Kedua, senja menjadi simbol pintu menuju hari yang baru penuh harapan baru.

Dengan demikian, Meradjoet Sendja secara keseluruhan bermakna merajut kembali ingatan, gagasan, dan perjuangan agar semuanya tidak tenggelam bersama senja, tetapi dapat diteruskan kepada generasi penerus. Karena faktanya banyak sekali generasi penerus bangsa yang kurang memahami apa itu makna dari nilai-nilai dasar perjuangan pendahulunya.

Meradjoet Sendja Sebagai Puncak Bakti Seniman Nusantara untuk Indonesia

Selain menjadi refleksi tentang keberanian mencintai Indonesia, Meradjoet Sendja juga menjadi titik puncak program Bakti Seniman Nusantara – Social Funds of Art & Culture. Program ini memperoleh dukungan penuh dari PARFI 56 dan Dompet Dhuafa.

Ketua Umum PARFI 56 sekaligus Produser Eksekutif Meradjoet Sendja, Marcella Zalianty, memaparkan jika pertunjukan kebangsaan ini merupakan perwujudan visi PARFI 56 dalam menghadirkan program Bakti Seniman Nusantara melalui kolaborasi dengan Dompet Dhuafa.

Meradjoet Senja Adalah Ruang bagi Seniman Senior dan Generasi Muda

Menurut Marcella, PARFI 56 bukan semata hadir sebagai pendukung, namun juga sebagai penggerak untuk memastikan seniman dan pekerja film, baik senior maupun muda, memiliki ruang untuk berkarya dan mendapatkan penghormatan yang layak.

“Meradjoet Sendja adalah bukti bahwa cinta pada profesi dan bangsa harus diperjuangkan bersama, tidak bisa sendiri-sendiri. PARFI 56 ingin mempersatukan semua unsur film dan seni dalam semangat kebangsaan,” ujar Marcella.

Sebagai Ketua PARFI 56, Marcella melihat acara ini sebagai ruang kolaborasi agar dunia seni dapat memberikan manfaat yang lebih luas lagi. Manfaat yang bisa dirasakan, bukan bagi profesi dan sesama pelaku seni sama, tetapi juga bagi kemajuan kebudayaan Indonesia serta pemberdayaan masyarakat pada umumnya.

Menurutnya, budaya dan kemanusiaan merupakan elemen penting dalam memperkuat identitas bangsa. Meradjoet Sendja menjadi jawaban atas keprihatinannya terhadap kondisi para seniman senior Indonesia.

Deretan Talent dalam Orkestrasi Meradjoet Sendja

Orkestrasi kebangsaan Meradjoet Sendja menghadirkan sejumlah aktor dan aktris ternama. Aktor, artis dan penyanyi yang mengambil peran dalam persembahan monumental tersebut diantaranya adalah Arswendy Bening Swara, Tanta Ginting, Fryda Lucyana, Isyana Sarasvati, Lutfi Ardiansyah, Edopaha, Jane Callista, Shanna Shannon, Ridho Rokhanah dan masih ada lagi yang lainnya.

Pertunjukan ini juga digawangi oleh tim artistik berpengalaman dan didukung oleh sekitar 200 anggota lebih paduan suara yang akan mengiringi puncak acara.

Empat Babak Meradjoet Sendja yang Membawa Penonton Menyusuri Sejarah Republik Indonesia

Orkestrasi Meradjoet Sendja terbagi dalam empat babak yang membawa narasi sejarah dan kebangsaan Indonesia

Babak I  Meradjoet Sendja – Fajar Nusantara

Babak pertama berjudul Fajar Nusantara. Bagian ini menggambarkan kelahiran alam Nusantara sekaligus menghadirkan dialog antara Soekarno dan Hatta.

Babak II Meradjoet Sendja – Tanah Pengasingan

Babak kedua, Tanah Pengasingan, mengisahkan perenungan Hatta, Syahrir, dan Soekarno ketika berada dalam masa pembuangan yang kemudian melahirkan Pancasila.

Babak III Meradjoet Sendja – Bahasa Keberanian

Selanjutnya, Bahasa Keberanian menghadirkan monolog Siti Soendari mengenai keputusan penting dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Babak IV Meradjoet Sendja – Pertemuan Satu Malam

Babak terakhir berjudul Pertemuan Satu Malam. Bagian ini menyajikan pertemuan Soekarno dan Tan Malaka dengan dua jalan yang berbeda. Pertemuan yang diadakan dalam ruangan gelap gulita yang tertutup antara pemikir bangsa dan seorang intel penuh misteri. Pertunjukan kemudian ditutup dengan monolog Soekarno di senja usianya.

Penutupan orkestrasi Meradjoet Sendja akan semakin istimewa dengan kehadiran 500 pelajar yang memenuhi auditorium untuk menyanyikan lagu Pancasila secara bersama-sama. Kehadiran para pelajar tersebut menjadi simbol estafet nilai-nilai kebangsaan kepada generasi penerus.

Memerankan tokoh sejarah bukan perkara sederhana. Para aktor yang terlibat harus mampu menghidupkan kembali nilai dan semangat tokoh tersebut di hadapan generasi masa kini melalui pemikirannya. Orkestrasi kebangsaan ini menghadirkan pemikiran dan gagasan pendahulu bangsa, bukan menampilkan sosok atau tingkah laku tokoh semata.

“Peran tokoh sejarah di atas panggung adalah tantangan besar karena kita harus menghidupkan kembali nilai-nilai dan semangat mereka di hadapan generasi masa kini,” ujar Arswendy yang berperan sebagai Bung Karno

Hasil Penjualan Tiket Meradjoet Sendja untuk Kegiatan Sosial

Seluruh hasil penjualan tiket Meradjoet Sendja akan disumbangkan sepenuhnya untuk mendanai kegiatan sosial bagi dua kelompok penerima manfaat yaitu para seniman, budayawan, pekerja seni dan film serta dhuafa yang membutuhkan bantuan.

Dengan konsep tersebut, pertunjukan seni tidak hanya menjadi ruang ekspresi dan refleksi, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan sosial. Hal ini merupakan kolaborasi seni dan kemanusiaan yang membawa kemaslahatan untuk umat.

Social Fund, semua penjualan tiket Meradjoet Sendja untuk kegiatan sosial
Peluncuran program Social Fund, penjualan tiket Meradjoet Sendja semuanya untuk kegiatan sosial (dokumentasi pribadi)

Tiket Meradjoet Sendja Mulai Bisa Dipesan untuk Masyarakat Umum

Tiket pertunjukkan Meradjoet Sendja sudah bisa dipesan. Penonton yang ingin menyaksikan langsung persembahan Meradjoet Sendja, dapat memesan tiket melalui mitra resmi Loket.com mulai minggu ketiga Agustus ini. Informasi lebih lanjut mengenai harga, kategori tiket dan kapan dapat dipesannya bisa dilihat melalui kanal resmi media sosial @parfi56.

Pada akhirnya, Meradjoet Sendja bukan sekedar berbicara tentang sebuah pertunjukan di atas panggung saja. Melalui seni, sejarah, kebudayaan, dan gerakan sosial, persembahan monumental ini membawa pesan berisi pentingnya menjaga ingatan, menghargai perjuangan, serta meneruskan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi berikutnya.

Para talent pertunjukkan Meradjoet Sendja
Arswendy (tengah), pemeran Bung Karno dalam orkestrasi Meradjoet Sendja (dokumentasi pribadi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button