Kesehatan

Kusta Bisa Disembuhkan dan Bukan Penyakit Kutukan

Kusta bisa disembuhkan dan bukan penyakit kutukan (doc.google)

Kusta merupakan salah satu jenis penyakit menular namun tidak mudah penularannya. Kusta atau lepra disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit kulit ini dapat menyebabkan masalah serius seperti munculnya luka borok atau kecacatan. Kusta dapat disembuhkan secara tuntas karena itu gejalanya harus dikenali sejak dini supaya cepat mendapatkan pengobatan yang tepat.
Kusta adalah penyakit yang tak hanya menyerang kulit, tapi juga sistem saraf perifer atau selaput lendir pada saluran pernapasan atas, dan mata. Maka dari itu, gejala yang dirasakan tidak hanya berdampak pada kulit tetapi juga pada bagian tubuh lainnya. Penyakit ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Ciri-ciri kusta bisa saja muncul setelah bakteri menginfeksi tubuh orang yang memiliki kusta selama dua hingga sepuluh tahun.
Seperti yang diutarakan oleh dr. Febrina Sugianto dalam talkshow Ruang Publik KBR “Gaung Kusta di Udara” , penyakit kusta dapat disembuhkan dan bukan penyakit kutukan. Ironisnya masih saja ada stigma terhadap penyakit kusta ini. Cukup banyak penderita kusta malah menyembunyikan penyakitnya karena tidak ingin dianggap sebagai pembawa kutukan atau terkena kutukan. Kusta bukanlah penyakit turunan. Stigma negatif terhadap penderita kusta inilah yang menjadi salah satu penyebab terlambatnya pengobatan pada penderita kusta.
Segera obati kusta (doc.google)

Talkshow Ruang Publik KBR, “Gaung Kusta di Udara”
Penyakit kusta dapat disembuhkan asalkan cepat diketahui. Karena itu penting sekali untuk mengenali gejala atau ciri-ciri penyakit kusta ini. Untuk lebih mengedukasi masyarakat terhadap penyakit kusta, dihelatlah talkshow Ruang Publik KBR dengan tema, “Gaung Kusta di Udara” secara online melalui live youtube KBR.
Talkshow Ruang Publik KBR “Gaung Kusta di Udara”

Salah satu ciri dari penyakit kusta yang harus diwaspadai adalah munculnya bercak-bercak pada kulit. Bercak ini dapat muncul dalam bentuk dan warna yang berbeda, tergantung jenis kustanya. Kusta menyebabkan lesi pada kulit, yaitu jaringan kulit yang tumbuh abnormal, baik di permukaan atau di bawah permukaan kulit. Lesi pada kusta memiliki warna yang lebih terang (hipopigmentasi) dibanding area sekitarnya, mirip seperti panu. Area kulit tersebut menjadi kering dan terasa tebal. Terjadi kelemahan otot dan gangguan saraf pada kulit yang berlesi; mati rasa dan pembesaran saraf. 
Mengenal kusta melalui talkshow KBR (doc.KBR)

Kusta terbagi menjadi dua jenis, yaitu kusta pausi basiler (PB) dan kusta multi basiler (MB). Kusta PB salah satu ciri atau gejala yang menonjol adalah bercak berwarna putih. Sedangkan pada kusta MB , bercak yang muncul berwarna kemerahan dan disertai penebalan pada kulit. Bercak putih pada kusta PB seringkali diabaikan dan kerap dianggap  sebagai panu. Padahal sebenarnya terdapat perbedaan di antara keduanya. Panu akan terasa gatal dan muncul warna kemerahan di pinggiran bercak. Sementara bercak putih pada kusta tidak terasa gatal, tapi justru mati rasa. Tidak dapat merasakan tekanan atau rasa sakit.
Kusta dapat menular melalui ludah (air liur) penderitanya namun tidak seperti penyakit menular lainnya yang sangat mudah penularannya. Kusta menular jika terjadi kontak intens dengan penderitanya secara terus menerus. Penularannya pun memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu tidak perlu menjauhi penderita kusta. Justru harus didorong agar mau berobat hingga tuntas.
Kusta bukan hanya memengaruhi kulit saja tapi bila tidak diobati dapat menyebabkan gangguan pada saraf ekstemitas, lapisan hidung sampai saluran pernafasan. Kusta yang telat diobati atau tidak diobati dapat merusak kulit, lengan, kaki dan mata secara permanen.  Kusta dapat menyebabkan penderitanya mengalami kebutaan, disfigurasi wajah termasuk pembengkakan permanen dan benjolan, gagal ginjal, disfungsi ereksi dan infertilitas pada pria, kerusakan permanen pada bagian dalam hidung yang menyebabkan mimisan dan hidung kronis, kerusakan permanen pada saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang termasuk lengan, jari dan kaki serta membuat penderitanya mati rasa.
5 tanda kusta (doc.Kemenkes RI)
Seperti yang dijelaskan oleh dr. Febrina, kusta dapat diobati. Penderitanya tidak usah malu dan berkecil hati. Penderita kusta harus didukung oleh orang-orang yang berada di sekitarnya dan bukan malahan dikucilkan. Saat ini pemerintah menyediakan pengobatan gratis untuk penderita kusta. Pengobatan gratis dapat diterima oleh penderita di fasilitas kesehatan milik pemerintah. Jika ada yang mengalami gejala atau curiga memiliki ciri-ciri kusta, segeralah minta pertolongan ke fasilitas kesehatan milik pemerintah terdekat untuk memperoleh pengobatan sehingga tidak telat ditangani. Sekali lagi, kusta dapat disembuhkan dan bukan penyakit kutukan seperti rumor yang selama ini beredar di masyarakat.
Penderita kusta cukup banyak yang merasa minder, malu, takut dijauhi dan memandang rendah diri sendiri karena stigma negatif yang beredar di masyarakat. Mereka menjadi malas untuk berobat ataupun keluar rumah untuk memperoleh bantuan pengobatan karena takut menularkan pada orang lain dan takut dicemooh. Alhasil, banyak penderita kusta yang memilih untuk mengurung diri atau bersembunyi di rumah. Padahal kusta dapat disembuhkan hingga tuntas. 
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2007-2008, diskriminasi terhadap orang yang mengalami kusta di antaranya, tidak diterima sebagai pegawai (karyawan), dikeluarkan dari pekerjaan, tidak boleh sekolah, diejek atau diolok-olok, bahkan ada yang ditolak naik kendaraan umum, ke tempat ibadah, restoran, hingga ikut pemilu. Stigma ini menjadi salah satu hambatan untuk memberikan pengobatan karena penderita kusta memilih bersembunyi dan mengurung diri. Hingga saat ini stigma negatif tentang penyakit kusta masih ada. Oleh sebab itulah KBR berupaya untuk memberikan edukasi terhadap masyarakat melalui talkshow seputar kusta.
Menurut Kementerian Kesehatan, Indonesia telah berhasil mencapai eliminasi kusta pada tahun 2000 dengan prevalensi kurang dari satu per sepuluh ribu penduduk. Namun, ada sepuluh provinsi yang masih cukup tinggi jumlah penderita kustanya. Diantaranya adalah Sulawesi Selatan, Papua dan Papua Barat. Pemerintah terus berupaya untuk mengeliminasi kusta di seluruh pelosok nusantara karena itu diperlukan kerjasama berbagai pihak. Sudah bukan masanya lagi mengucilkan dan mencemooh penderita kusta. Yuk eliminasi kusta untuk Indonesia sehat.
Salah satu gejala kusta (doc.google)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button