Peluncuran Buku Terbaru KH Ma’ruf Amin

“NU tidak boleh dipahami sekadar sebagai organisasi administratif. NU adalah sistem yang hidup,” KH Ma’ruf Amin
Bertempat di Grand Sahid Jaya, 5 Agustus 2026 diluncurkan buku terbaru yang berisi pemikiran Mantan Wapres KH Ma’ruf Amin sekaligus kekhawatiran dan harapannya terhadap Nahdlatul Ulama (NU). Buku yang ditulis oleh putri ke-8 KH Ma’ruf Amin yaitu Hj. Siti Haniatunnisa atau yang akrab dipanggil Bu Hani ini berjudul “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin”. Bu Hani tidak sendirian menulis buku ini, beliau dibantu oleh H. Muhammad Zainal Arifin.
Buku setebal lebih dari 600 halaman ini bukan hanya membahas perjalanan organisasi semata tetapi lebih dalam dari itu. Buku ini berisi pemikiran sekaligus kegelisahan seorang yang sejak muda aktif dalam kegiatan NU. Yups kegelisahan seorang Ma’ruf Amin. Bu Hani melalui tulisannya mengajak pembaca memahami bagaimana NU seharusnya dijalankan dengan ilmu, keyakinan, dan arah perjuangan yang jelas.
Ketika pertama kali membaca judul buku ini, saya berpikir jika isi buku ini pasti sarat dengan pesan dan makna mendalam yang bukan hanya berguna untuk nahdliyin saja tapi juga masyarakat awam. Isi dan gagasan yang diangkat dalam buku ini, membuat saya merasa pesannya relate dengan kehidupan sehari-hari.
Tidak sedikit dari kita yang menjalankan tradisi keagamaan karena sudah diajarkan sejak kecil. Bukan karena kesadaran melainkan sebuah kebiasaan. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tetapi, KH Ma’ruf Amin mengingatkan bahwa memahami alasan di balik tradisi tersebut akan membuat keyakinan menjadi jauh lebih kokoh.

Berawal dari Sebuah Pertanyaan tentang Masa Depan NU
Ada tiga pilar utama yang menurut Kiai Ma’ruf harus menjadi fondasi organisasi: fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan). Tiga pilar utama inilah yang dikupas tuntas dalam buku “Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin”.
Ada satu pertanyaan yang dilontarkan Bu Hani pada KH Ma’ruf Amin yaitu bagaimana seharusnya NU menghadapi abad keduanya. Jawaban dari pertanyaan inilah yang menjadi fondasi utama dari buku ini. Bersama H. Muhammad Zainal Arifin, Bu Hani menyusunnya menjadi lima bab yang saling berhubungan sebagaimana sebuah bangunan yang kokoh.
Isinya secara runtut mengupas revitalisasi fikrah (cara berpikir), manhaj (metode), hingga harakah (gerakan) Nahdhiyyah, dengan puncaknya mengajak warga NU untuk berorganisasi secara ‘alā baṣhīrah (berdasar pada pemahaman dan argumentasi yang kuat)
Setiap bab dalam buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana NU tidak hanya bertahan sebagai organisasi besar, tetapi juga mampu terus berkembang menghadapi perubahan zaman. Banyak tantangan yang dihadapi tapi NU tetap kokoh berdiri hingga saat ini.
Pemikiran KH Ma’ruf Amin dalam Tiga Pilar Utama NU
Inti pembahasan buku ini fokus pada tiga pilar yang menurut KH Ma’ruf Amin harus menjadi fondasi organisasi Nahdlatul Ulama, yaitu fikroh, manhaj, dan harakah. Ketiganya bukan sekadar istilah, melainkan pedoman agar NU tetap berjalan sesuai cita-cita para pendirinya.
Buku ini hadir untuk mendorong warga Nahdliyin agar ber-NU ‘alā baṣhīrah, yakni berbasis pemahaman, keyakinan, dan hujjah yang jelas, bukan sekadar mengikuti tradisi keluarga saja. Pembaca akan diajak memahami pemikiran keislaman dan kebangsaan K.H. Ma’ruf Amin dalam merawat tradisi Nahdlatul Ulama.
Dalam perspektif pemikiran KH Ma’ruf Amin, Fikroh (pola pikir) berarti penegasan bahwa ber-NU tidak hanya bermodalkan warisan atau keturunan semata melainkan harus dibangun atas kesadaran ideologis Ahlussunnah wal Jama’ah. Yang kedua, Manhaj (metodologi) merupakan kerangka berpikir dalam menetapkan hukum dan menyikapi persoalan sosial-keagamaan agar tetap terarah dan tidak terjebak pada ekstremisme. Dan yang ketiga yaitu harakah atau gerakan. Hal ini terkait aksi nyata organisasi dalam membangun kemandirian ekonomi umat serta merajut hubungan harmonis antara teologi dan kehidupan bernegara di Republik Indonesia.

Ber-NU ‘Alā Baṣhīrah, Bukan Sekadar Ikut Tradisi
Salah satu kalimat yang paling membekas dari buku ini adalah ajakan agar warga Nahdliyin ber-NU ‘alā baṣhīrah, yaitu berorganisasi berdasarkan pemahaman, keyakinan, dan hujjah yang jelas. Saya pribadi melihat pesan ini begitu penting.
Tradisi memang menjadi kekuatan Nahdlatul Ulama. Namun, ketika tradisi dipadukan dengan ilmu dan pemahaman yang benar, maka seseorang tidak hanya mengikuti kebiasaan, tetapi juga memahami tujuan serta nilai yang sedang dijaga. Inilah yang ingin ditegaskan oleh KH Ma’ruf Amin melalui buku ini.
Hadir di Momentum Penting Menjelang Muktamar ke-35 NU
Peluncuran buku ini dinilai sangat momentum lantaran digelar menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 mendatang.
Momentum tersebut membuat pesan dalam buku ini terasa semakin kuat. Ketika NU memasuki abad keduanya, pembahasan mengenai fikroh, manhaj, dan harakah menjadi bekal penting untuk menjawab tantangan masa depan.
Hadir pula jajaran tokoh nasional lain, di antaranya Kemenag RI Prof KH Nasaruddin Umar, Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Wakil Ketua Baznas RI KH Zainut Tauhid Sa’adi, Ketua MUI Bidang Fatwa Prof KH Asrorun Niam Sholeh, Ketua Kopnus Syariah Abdul Kholid Soleh, Wasekjend MUI Bidang Dakwah KH Arif Fahruddin, serta Wasekjen MUI Bidang Infokomdigi Dr Asrori S Karni, Ketua Umum PB NU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Menurut saya, kekuatan buku ini bukan hanya karena memuat pemikiran KH Ma’ruf Amin, tetapi juga karena berhasil menjelaskan nilai-nilai dasar NU dengan bahasa yang runtut dan mudah dipahami. Buku ini dicetak dalam 3 bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Inggris dan Bahasa Arab.
