KeluargaParenting

7 Fakta Dunia Remaja yang Wajib Dipahami Ibu

Dunia remaja selalu menarik, tetapi juga membingungkan. Ada hari-hari ketika mereka terlihat penuh semangat dan percaya diri, lalu esoknya bisa berubah menjadi pendiam, sensitif, mudah tersinggung bahkan membangkang. Pokoknya bikin sakit kepala.

Menjadi ibu dari anak remaja ternyata jauh berbeda dari yang saya bayangkan. Dulu saya pikir, tantangan terbesar adalah saat mereka masih balita, rewel, sulit makan, sulit tidur nggak bisa diam. Eh ternyata saya keliru. Justru pada saat remajalah, tantangan berat yang saya hadapi.

Memasuki dunia remaja, tantangannya bukan lagi soal fisik, tetapi emosi, komunikasi, dan rasa kehilangan. Anak yang dulu bercerita tanpa diminta, kini lebih sering diam di kamar atau asik sendiri dengan dunianya. Dari situlah saya mulai banyak membaca, mengamati, dan belajar memahami dunia remaja masa kini. Sebagai ibu, saya harus bisa beradaptasi dengan kondisi emosional anak remaja saya, mencoba menerima dan memahami fase yang sedang dialaminya.

Apa Itu Dunia Remaja? (Fakta Penting #1)

Dunia remaja adalah fase kehidupan pada usia sekitar 12–18 tahun, ketika anak mengalami perubahan besar secara fisik, emosional, sosial, dan psikologis. Menurut World Health Organization (WHO), masa remaja adalah periode krusial yang menentukan kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang di masa dewasa.

Sebagai ibu, saya berusaha memahami fase kehidupan yang dihadapi anak remaja saya. Hal ini membuat saya berhenti berekspektasi berlebihan. Saya belajar bahwa perubahan sikap anak remaja bukan pembangkangan melainkan tanda mereka sedang tumbuh. Saya juga berupaya untuk menerima bahwa remaja bukanlah “dewasa kecil” tapi sebuah proses peralihan.

Emosi Remaja Naik Turun Itu Normal (Fakta #2)

Otak Remaja Belum Berkembang Sempurna

Pernah merasa anak remaja mudah tersinggung, moody, atau tiba-tiba marah? Yuk kita toss xixixi. Pastinya bikin mengelus dada dan terkadang bikin sakit kepala. Jalan pikiran anak remaja seringnya membuat kita sebagai orang tua jadi “hah hoh”, “kok bisa berpikirnya begitu?”.

Ada gap atau jarak tak kasat mata antara orangtua dan remaja. Disinilah peran orangtua bekerja. Harus bisa menekan ego dan menerima remaja beserta karakter uniknya. Tarik ulurnya harus tepat untuk bisa menjadi teman sekaligus orang kepercayaan remaja. Percayalah ini bukan sesuatu yang mudah.

Menurut American Psychological Association (APA), bagian otak yang mengatur emosi dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) belum matang sepenuhnya pada remaja. Karena itulah emosi remaja mudah meledak, logika kadang kalah oleh perasaan dan reaksi sering lebih dulu daripada berpikir. Orangtua harus paham akan kondisi tersebut. Mengetahui ini memaksa saya untuk lebih sabar walau tidak semudah membalikkan telapak tangan. Alias berat booo!

Dunia Remaja Sangat Dipengaruhi Media Sosial (Fakta #3)

Like dan Komentar Bisa Mempengaruhi Mental Remaja

Dunia remaja hari ini sangat berbeda dengan masa kecil saya. Dulu, belum ada internet, arus informasi tidak sederas saat ini. Jauhlah bedanya. Saat saya remaja, taunya ya main dengan teman sebaya, taksir-taksiran dengan lawan jenis, paling banter ya baca tabloid remaja. Tapi kini, internet mudah diakses, media sosial menjadi bagian dari keseharian mereka. Sedihnya cukup banyak remaja yang “tersesat” akibat internet dan media sosial. Mereka asal saja berselancar internet dan media sosial tanpa paham apa itu media sosial beserta resikonya.

UNICEF mencatat bahwa paparan digital berlebihan dapat memengaruhi:

~ Kepercayaan diri;

~ Kesehatan mental;

~ Cara remaja menilai dirinya sendiri.

Sebagai ibu, saya belajar bahwa melarang total justru membuat masalah baru, hubungan orangtua dan remaja yang menjauh. Anak remaja bisa menjadi nekat yang berujung sebuah penyesalan mendalam. Cara yang lebih efektif adalah mendampingi dan berdialog. Menjadi teman bukan hakim apalagi jaksa.

Kesehatan Mental Jadi Isu Serius Remaja (Fakta #4)

Masalah Remaja Tidak Bisa Dianggap Sepele

WHO menyebutkan bahwa gangguan kesehatan mental adalah salah satu penyebab utama masalah kesehatan pada remaja secara global. Tanda-tanda yang saya pelajari untuk lebih waspada terhadap perkembangan dan kesehatan mental anak remaja saya, adalah:

~ Menarik diri dari keluarga

~ Mudah lelah secara emosional

~ Perubahan pola tidur dan makan

Sebagai ibu, ini membuat saya lebih berhati-hati dengan kata-kata dan pikiran saya sendiri. Saya belajar lebih bijak dan memilah kata perkata yang saya ucapkan pada anak remaja sata. Saya percaya, satu kalimat bisa bermakna besar bagi remaja. Terutama untuk kesehatan mentalnya.

Remaja masa peralihan
Remaja adalah fase peralihan dari masa kanak-kanak (dokumen pribadi)

Tekanan Akademik Sering Tak Terlihat (Fakta #5)

Nilai, ranking, target masa depan semua itu terasa berat bagi remaja. Sayangnya, orang dewasa sering lupa bahwa mereka masih belajar mengelola tekanan. Sebagai orang tua, acapkali lupa bahwa anak remajanya bukanlah objek balas dendam ketidakmampuan orang tua di masa mudanya. Anak bukanlah alat untuk mencapai ambisi kedua orangtuanya.

Banyak remaja terlihat “baik-baik saja”, padahal sedang kelelahan mental. Dan hal ini dikarenakan sikap orang tua yang memaksakan mimpi dan harapan tingginya pada anak remajanya. Padahal setiap anak memiliki mimpi dan harapannya sendiri yang bisa jadi berbeda atau bertolak belakang dari harapan dan impian kedua orangtuanya.

Menurut Santrock dalam Life-Span Development, tekanan akademik yang tidak disertai dukungan emosional dapat berdampak pada motivasi jangka panjang. Jelas hal ini akan mempengaruhi kondisi kesehatan mental dan perkembangan psikis remaja.

Remaja Sedang Mencari Jati Diri (Fakta #6)

Berubah-Ubah, Itu Bagian dari Proses

Hari ini anak saya suka satu hal, bisa saja, esoknya sudah beralih pada hal lainnya. Saya sempat berpikir, apa ada yang salah dengan anak remaja saya? Kenapa mudah sekali beralihnya? Ternyata wajar adanya, normal terjadi pada remaja.

Masa remaja adalah fase eksplorasi:

~ Minat

~ Gaya berpakaian

~ Lingkar pertemanan

~ Cara berpikir

Satu hal yang perlu dipahami, hal ini bukan ketidakkonsistenan, ini proses pembentukan identitas. Suatu kondisi yang lumrah terjadi. Orang tua tidak perlu panik jika mendapati remajanya cepat berubah atau senang mencoba hal baru.

Peran Ibu Sangat Menentukan (Fakta #7)

Remaja Butuh Didengar, Bukan Dihakimi

Menurut APA, kualitas hubungan dengan orang tua terutama ibu sangat memengaruhi kesehatan dan perkembangan mental remaja. Ibu harus menjadi pendengar, pengamat sekaligus motivator untuk remajanya. Harus berada “di samping” bukan di depan atau dibelakang.

Sebagai ibu, saya belajar:

~ Menjadi pendengar lebih penting daripada pemberi nasihat;

~ Mengakui kesalahan adalah bentuk kedewasaan;

~ Kehadiran emosional lebih bermakna daripada kontrol.

Refleksi Seorang Ibu tentang Dunia Remaja

Dunia remaja bukan dunia yang mudah bagi anak, maupun bagi ibu. Saya sering merasa gagal, bingung, bahkan lelah. Namun saya juga belajar bahwa menjadi ibu dari remaja adalah proses bertumbuh dua arah. Menjadi ibu tidak harus sempurna tapi terus belajar untuk menjadi versi terbaik untuk anak remajanya. Anak belajar menjadi pribadi yang lebih matang sikap dan berpikirnya, dan saya belajar menjadi ibu yang lebih tenang.

Kesimpulan : 7 Fakta Ini Mengubah Cara Saya Mengasuh

Memahami dunia remaja membuat saya:

~ Lebih sabar;

~ Lebih reflektif;

~ Lebih hadir secara emosional.

Parenting remaja bukan tentang menjadi orang tua atau ibu yang sempurna, tetapi menjadi orang tua yang terus belajar. Dalam perjalanan ini, kita tumbuh bersama anak dengan luka, harapan, dan cinta yang pelan-pelan matang

Pada akhirnya, remaja tidak butuh ibu yang sempurna. Mereka butuh ibu yang mau belajar, mendengar, dan tetap tinggal meski sering mengalami penolakan. Remaja butuh ibu dan ayah sebagai teman bukan penghukum apalagi penjulid sadis.

Remaja butuh ibu yang mengerti
Remaja tidak butuh ibu yang sempurna tapi ibu yang selalu ada untuk mendengar tanpa menghakimi (dokumen pribadi)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button