
Bagi banyak orang, zakat sering dipahami sebagai bantuan sesaat untuk mereka yang membutuhkan dan bersifat sesekali saja. Padahal pemanfaatan zakat dapat lebih luas lagi. Salah satu contohnya di kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa yang berada di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Zakat Dompet Dhuafa dimanfaatkan untuk program ternak ayam Arab petelur.
Ada saja memang gebrakan Dompet Dhuafa ini, dari dana zakat bisa menjadi lebih dari sekadar bantuan sosial ketika dikelola secara produktif. Dompet Dhuafa membuktikan jika zakat mampu membuka jalan menuju kemandirian ekonomi. Salah satunya mengubah nasib seorang guru ngaji menjadi seorang peternak ayam Arab petelur.
Salah satu bukti pengelolaan zakat yang tepat, hadir melalui program peternakan ayam Arab petelur yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa di kawasan Zona Madina. Program ini bukan sekadar memberikan bantuan ternak, tetapi membangun sebuah ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.

Dari 12 kandang yang tersebar di wilayah Parung, produksi telur kini stabil di angka 1.500 hingga 2.000 butir per hari. Angka yang mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan cerita perjuangan, harapan, dan perubahan hidup bagi para penerima manfaat.
Contents
- 1 Dari Guru Ngaji Menjadi Peternak Ayam Arab Petelur
- 2 Mengapa Memilih Ayam Arab Petelur?
- 3 Ayam Arab Petelur, Produksi Stabil dan Masa Produktif Panjang
- 4 Sistem Pendampingan Peternak Ayam Arab Petelur dari Hulu ke Hilir
- 5 Harga Telur Ayam Arab yang Lebih Menguntungkan
- 6 Zakat Produktif yang Mengubah Masa Depan Penerima Manfaat
- 7 Kandang Sederhana, Harapan Besar
Dari Guru Ngaji Menjadi Peternak Ayam Arab Petelur
Satu kisah inspiratif datang dari seorang penerima manfaat yang merupakan seorang pengajar ngaji bernama Yahya. Pak Yahya merupakan salah satu pengajar di Pondok Pesantren Miftahul Jannah yang dikelolanya. Pondok pesantren yang sangat sederhana.

Sebelum bergabung dalam program pemberdayaan ini, Pak Yahya menjalani hari-harinya dengan mengajar mengaji di kampung. Pekerjaan itu ia jalani dengan penuh keikhlasan, meskipun penghasilannya tidak menentu bahkan bisa dibilang kurang.
Namun hidupnya mulai berubah ketika ia menjadi salah satu penerima manfaat Dompet Dhuafa. Beliau menerima bantuan 250 ekor ayam kampung Arab petelur dari program pemberdayaan Dompet Dhuafa yang dijalankan di Pondok Pesantren Miftahul Jannah.
Awalnya, perjalanan tersebut tidak selalu mulus. Beberapa ayam mati karena faktor cuaca dan proses adaptasi dengan kandang baru. Situasi itu sempat membuat Pak Yahya khawatir. Cuaca menjadi salah satu tantangan berat yang harus dihadapi seorang peternak ayam petelur. Untungnya beliau tidak mudah menyerah.
Melalui pendampingan yang terus diberikan, Pak Yahya belajar memahami cara merawat ayam dengan lebih baik. Ia mempelajari banyak hal, mulai dari manajemen pakan, kesehatan ternak, hingga cara menjaga produktivitas ayam petelur. Kini, kandang yang ia kelola mampu menghasilkan sekitar 150 butir telur setiap hari.
Telur-telur tersebut kemudian dikirim secara berkala ke kawasan Zona Madina. Zona Madina merupakan kawasan pemberdayaan masyarakat berbasis wakaf di Parung, Bogor. Di Zona Madina inilah telur-telur dari para peternak binaan dikumpulkan, dikelola, dan dipasarkan kembali ke berbagai jaringan distribusi.
Mengapa Memilih Ayam Arab Petelur?
Nur Imam selaku penanggung jawab program Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa menjelaskan bahwa pemilihan ayam Arab bukan tanpa alasan. Ayam Arab petelur dinilai lebih menguntungkan dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih stabil dan kuat.
Sejak program ini dimulai pada tahun 2022, tampak terlihat adanya masalah klasik yang sering dihadapi peternak kecil, yaitu fluktuasi harga telur ayam ras yang sangat tajam. Ketika harga turun drastis, banyak peternak kecil tidak mampu menutupi biaya operasional. Di sinilah ayam Arab petelur menjadi solusi.
Berbeda dengan telur ayam ras yang dijual berdasarkan berat per kilogram, telur ayam Arab dipasarkan per butir. Harga perbutirnya pun bisa berbeda-beda sesuai ukuran dan kualitas telur. Hal inilah yang membuat harga relatif lebih stabil dan margin keuntungan peternak lebih terjaga.
Selain itu, ayam Arab memiliki sejumlah keunggulan lain:
* Produktivitas tinggi, bisa mencapai 250 butir telur untuk satu ekor ayam pertahunnya;
* Karakter mirip ayam kampung namun lebih efisien bertelur;
* Konsumsi pakan lebih hemat;
* Daya tahan tubuh lebih kuat.
Setiap ekor ayam rata-rata hanya membutuhkan 80–90 gram pakan per hari , lebih sedikit dibandingkan ayam ras yang bisa mengonsumsi lebih dari 100 gram. Dengan biaya pakan yang lebih efisien dan harga jual telur yang lebih tinggi, usaha ini menjadi peluang ekonomi yang cukup menjanjikan bagi masyarakat.
Ayam Arab Petelur, Produksi Stabil dan Masa Produktif Panjang
Keunggulan lain dari ayam Arab petelur adalah masa produksinya yang cukup panjang. Ayam mulai bertelur pada usia sekitar 18 minggu dan dapat terus produktif hingga sekitar 24 bulan. Pak Yahya menjelaskan, setelah usia 24 bulan atau 2 tahun, ayam arab petelur tidak produktif dan harus diganti. Usia produktif ayam Arab petelur hingga 24 bulan ini menunjukkan jika peternak memiliki waktu cukup panjang untuk mendapatkan keuntungan dari usaha ternak tersebut.
Program Plasma ayam Arab petelur ini, setiap penerima manfaat mengelola satu kandang dengan kapasitas sekitar 250 ekor ayam petelur. Dari jumlah tersebut, rata-rata produksi telur mencapai 150 hingga 180 butir per hari. Telur-telur tersebut kemudian dikumpulkan di gudang telur Zona Madina sebelum didistribusikan kepada agen, distributor, hingga penjualan eceran.
Saat ini jaringan pemasaran telur ayam Arab sudah menjangkau 20 hingga 30 mitra pasar. Hal ini membuat hasil produksi para peternak binaan tidak kesulitan menemukan pasar.
Sistem Pendampingan Peternak Ayam Arab Petelur dari Hulu ke Hilir
Keberhasilan program pemberdayaan ekonomi Dompet Dhuafa di Desa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Bogor ini tidak hanya berasal dari bantuan ternak semata. Kunci utama keberhasilannya adalah pendampingan yang dilakukan secara menyeluruh.

Dompet Dhuafa melakukan beberapa langkah penting, antara lain:
*Seleksi penerima manfaat berdasarkan delapan asnaf zakat;
* Pelatihan teknis peternakan;
* Pendampingan manajemen usaha;
* Penguatan jaringan pemasaran.
Pendampingan ini memastikan bahwa para peternak tidak hanya mampu memproduksi telur, tetapi juga memahami bagaimana menjualnya. Karena pada kenyataannya, menjual telur ayam arab memiliki tantangan tersendiri dibandingkan telur biasa.
Dengan sistem distribusi yang sudah dibangun, para peternak bisa lebih fokus pada produksi tanpa harus khawatir memasarkan hasil ternaknya.
Harga Telur Ayam Arab yang Lebih Menguntungkan
Salah satu faktor yang membuat usaha peternakan ayam arab petelur menarik adalah harga jual telurnya yang cukup kompetitif. Harga telur biasanya ditentukan berdasarkan ukuran:
Spesifikasi harga ayam Arab petelur program plasma Dompet Dhuafa, yaitu:
~ Telur kecil (<35 gram): sekitar Rp1.800 per butir
~ Telur sedang (35–45 gram): sekitar Rp2.200 per butir
~ Telur besar (>45 gram): sekitar Rp2.500 per butir (note : ini adalah harga dasar dari peternak langsung)
Dengan produksi yang stabil setiap hari, penghasilan yang diperoleh peternak bisa cukup membantu ekonomi keluarga.

Penghasilan Baru yang Memberi Harapan
Bagi Pak Yahya, usaha ternak ayam arab petelur ini menjadi sumber penghasilan baru yang sebelumnya tidak ia miliki. Dalam sistem yang diterapkan oleh Dompet Dhuafa, jumlah telur yang dikirim akan dihitung setiap bulan. Setelah dikurangi biaya operasional seperti pakan, vitamin, vaksin, dan transportasi, peternak menerima hasil bersih yang bisa mereka gunakan untuk kebutuhan keluarga. Saat ini, penghasilan bersih Pak Yahya berkisar antara Rp1,2 juta hingga Rp2 juta per bulannya. Nominal tersebut mungkin belum besar, tetapi bagi Pak Yahya, itu adalah awal dari perubahan perekonomian keluarganya
“Sekarang sudah ada harapan dengan adanya kita bergabung di ekosistem Zona Madina ini. Hasilnya sudah mulai terlihat. Setiap hari terkumpul telur yang dibawa ke Zona Madina” ujar Pak Yahya
Selain mengajar ngaji seperti biasanya, kini Pak Yahya juga menjadi peternak ayam petelur yang memiliki penghasilan tetap tiap bulannya. Terjadi peningkatan taraf hidupnya.
Zakat Produktif yang Mengubah Masa Depan Penerima Manfaat
Program peternakan ayam arab petelur ini juga memiliki sistem keberlanjutan. Sebagian dari hasil penjualan telur dialokasikan sebagai tabungan usaha. Dana ini nantinya digunakan untuk membeli ayam baru ketika ayam lama sudah tidak produktif. Dengan cara ini, usaha ternak bisa terus berjalan tanpa harus memulai dari nol.
Rata-rata penerima manfaat program ini dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2,5 juta per bulan, tergantung pada jumlah produksi telur. Bagi Dompet Dhuafa, angka produksi 2.000 butir telur per hari bukan sekadar statistik.
Itu adalah bukti bahwa zakat yang dikelola dengan pendekatan profesional mampu menciptakan perubahan nyata. Zakat tidak lagi hanya menjadi bantuan jangka pendek.
Zakat berubah menjadi mesin pemberdayaan ekonomi yang mampu mengangkat masyarakat menuju kemandirian.
Kandang Sederhana, Harapan Besar
Untuk penerima manfaat seperti Pak Yahya, kandang ayam yang beliau rawat setiap hari bukan hanya tempat beternak. Di sanalah ia menaruh harapan.
Harapan agar pelan-pelan bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan lebih baik. Harapan agar masa depan terasa lebih pasti. Dan harapan bahwa dari telur-telur kecil yang ia kumpulkan setiap hari, kehidupan yang lebih baik bisa perlahan terbangun.
